Selasa, 21 Desember 2010

STRES

STRES

Stres adalah kondisi penuh tekanan baik berasal dari luar maupun dari dalam diri individu, yang mengakibatkan terganggunya keseimbangan hidup, sehingga menuntut individu melalkukan penyesuaian secara fisik dan psikologis.

Macam - macam Stres 
  • Stres biasa (daily hazzels)
  • Stres kumulatif
  • Stres Traumatis
Beda Stres dengan Trauma
Stres 
  • Tidak didahului peristiwa traumatis
  • Bertahap
  • Menumpuk sedikit demi sedikit
Trauma
  • Didahului peristiwa traumatis
  • mendadak
  • Umumnya berdampak jangka panjang
Reaksi seperti apa yang ditampilkan anda atau orang lain saat mengalami Stres   ?

Reaksi Stres
  • Reaksi Emosional  : Shock, takut, cemas, marah, benci, berduka, rasa bersalah, malu, tidak berdaya, tidak dapat merasakan apapun, depresi.
  • Reaksi Kognitif     :  Bingung, kehilangan orientasi, ragu-ragu, sulit membuat keputusan, khawatir, proses berpikir lambat, sulit mengingat, sulit berkonsentrasi, mudah lupa, mimpi buruk.
  • Reaksi Fisik          :  Tegang, cepat lelah, gangguan tidur, nyeri tubuh atau kepala, mudah terkejut, jantung berdebar, keringat dingin, mual, pusing, gangguan nafsu makan, gangguan pada gairah seksual.
  • Reaksi Perilaku     :  Menyendiri, melakukan banyak pekerjaan namun hasilnya tidak efektif, tidak bisa diam, mengkomsumsi rokok, alkohol atau obat-obatan.
  • Reaksi Interpersonal  :  Sulit percaya pada orang lain, mudah tersinggung, naik darah, tidak sabar, mudah terlibat dalam konflik, menarik diri, merasa ditolak/ ditinggalkan, menjauhi orang lain.
  • Reaksi Spiritual     :  Mempertanyakan makna hidup, marah terhadap tuhan, mempertanyakan agama yang dianut.
PENTING DI INGAT  !

Dalam konteks Bencana :
Reaksi-reaksi yang muncul tersebut merupakan reaksi yang NORMAL dalam situasi yang TIDAK NORMAL

Perbedaan individual dalam reaksi dan dampak stres
Faktor Internal
  1. Karakteristik individu (usia, gender, tingkat pendididkan, status ekonomi, ras, dsb..)
  2. Pengalaman stres sebelumnya.
  3. Tipe kepribadian.
  4. Pola pikir.
Faktor Eksternal
  1. ada/ tidaknya dukungan sosial
Faktor Sumber Stres
  1. Pindah rumah
  2. Putus cinta
  3. Pensiun
Coping Stres
  • Usaha individu untuk melalui pengalaman pahit, mengurangi reaksi negatif stres dan mencegah munculnya masalah yang lebih serius.
  • Cara mencegah, menunda, menghindar, atau mengelola stres.
Coping stres Positif
  • Berbagi perasaan.
  • Berdoa.
  • Mencari informasi untuk memecahkan masalah.
  • Mencari kesibukan lain, sejenak mengalihkan diri dari sumber stres.
Coping Negatif
  • Lari dari masalah.
  • Menutup diri
  • Menghindari orang lain, dsb.

Senin, 20 Desember 2010

DAMPAK PSIKOSOSIAL BENCANA TERHADAP KELOMPOK RENTAN

SIAPA YANG TERMASUK KELOMPOK RENTAN  ?
  • Anak-anak
  • Remaja
  • Perempuan
  • Laki-laki
  • Lansia
  • Penderita Cacat Fisik dan Mental
  • Ada lagi  ?
Dampak Psikososial Bencana Terhadap Kelompok Rentan
Ciri umum pada Anak
  • Sulit mengungkapkan apa yang dirasakan/ dipikirkan secara lisan.
  • Masih tergantung pada orang tua.
  • Terkadang belum paham akan apa yang terjadi (yang mati tidak akan kembali, tidak punya rumah lagi)
  • Sangat terpengaruh oleh reaksi orang yang lebih dewasa.
  • Takut ditinggal sendirian.
  • Magical thinking.
Reaksi umum pada Anak
  • Perilaku  : umumnya terjadi masalah tidur, kemunduran perilaku (regressive behavior) seperti ngompol
  • Emosi     : takut, cemas, depresi, marah, rasa bersalah.
  • Fisik       : pusing, sakit perut (psikosomatis), gangguan makan.
  • Kognitif  : bingung, sulit konsentrasi, masalah dalam belajar.
Ciri umum pada Remaja
  • Perubahan fisik menyebabkan rasa tidak nyamandengan diri sehingga perlu beradaptasi.
  • Reaksi mirip dengan orang dewasa.
  • Mampu berpikir logis, memecahkan masalah, melihat sebab-akibat, membuat rencana, melakukan analisa sehingga sudah memahami apa yang terjadi, paham mengenai konsep "Permanent Loss".
  • Tema sentral kehidupan : teman-teman.
Reaksi umum pada Remaja
  • Perilaku berisiko tinggi : narkoba, seks bebas.
  • Menarik diri dari pergaulan.
  • Tidak mau bicara pada orang tua.
  • Mudah sekali marah.
  • Bermasalah di sekolah.
Dampak terhadap Perempuan
  • Harus menjadi tulang punggung keluarga.
  • Sangat rentan mengalami kekerasan. Contoh : perkosaan, pelecehan, dll.
  • Keterbatasan fisik.
  • Trauma berulang sehingga bisa terkena penyakil menular seksual, hamil di luar nikah, dsb.
  • Perempuan cenderung lebih rentan terhadap depresi dan kecemasan.
  • Perempuan memiliki kekuatan dan kemampuan untuk membantu orang lain.
Dampak terhadap Laki-laki
  • Sering terabaikan karena dianggap kuat.
  • Menjalankan peran baru (misalnya sebagai pengasuh anak).
  • Trauma juga menyebabkan perubahan bermakna bagi laki-laki, sama seperti kelompok lainnya.
  • Takut memikirkan masa depan.
Dampak terhadap Lansia
  • Perasaan takut yang diikuti dengan rasa marah dan frustasi.
  • Merasa gelisah, sendiri dan putus asa.
  • Meningkatnya ketergantungan pada keluarga.
  • Menarik diri, sering menangis, depresi.
  • Gangguan tidur.
  • Keinginan untuk bunur diri.
  • mengalami disorientasi karena rutinitas terganggu.
  • Kesulitan konsentrasi dan berkomunikasi.
  • Sumber tekanan terbesar ialah rasa KEHILANGAN.
Dampak terhadap Orang Cacat Mental dan Fisik
  • Memiliki kebutuhan yang agak berbeda dari orang normal secara fisik.
  • Lebih diacuhkan oleh orang lain.
  • Tidak berdaya, tidak bisa minta tolong.
  • Terpinggirkan, terisolasi, menjadi korban untuk kedua kalinya.
  • Berisiko besar mengalami kekurangan nutrisi, tertular penyakit, dan kekurangan perawatan kesehatan.
TIDAK BOLEH DILUPAKAN ....!
Setiap manusia adalah UNIK dan biasanya bereaksi dengan cara-carayang sangat individual (berbeda), walaupun berada dalam rentang usia yang sama.

Selain berdampak padamasyarakat yang tinggal di lokasi bencana, siapa lagi yang rentan mengalami masalah penyesuaian kembali setelah bencana terjadi  ?

Yang juga Rentan mengalami masalah penyesuaian kembali... ?
  • Kehilangan orang terdekat.
  • Pernah terancam jiwanya.
  • Melihat orang terluka atau tewas.
  • Berada di lokasi kejadian.
  • Kehilangan rumah, harta benda, atau lingkungan tempat tinggal.
  • Kehilangan komunikasi/ dukungan kerabat dekat.
  • Ada tuntutan emosi tinggi (misalnya : berulangkali meminta tim evakuasi mencari jenazah).
  • Kelelahan, lapar dan kantuk yang luar biasa.
  • Berulangkali berhadapan dengan bahaya, kehilangan, beban fisik/ emosi.

Minggu, 19 Desember 2010

DASAR - DASAR DUKUNGAN PSIKOSOSIAL

Apakah Dukungan Psikososial itu  ?

Penggabungan dari 2 kata  :
  • " PSIKO"  -- internal : pikiran, perasaan, nilai, kepercayaan yang dianut individu
  • " SOSIAL " -- eksternal : hubungan antara individu dengan konteks lingkungannya
PSIKOSOSIAL
Hubungan dinamis antara dampak Psikologis dan Sosial, dimana masing-masing saling berinteraksi dan saling mempengaruhi secara berkelanjutan.
  • Dampak Psikologis adalah dampak yang mempengaruhi fungsi kognitif dan ingatan, emosi, perilaku.
  • Dampak Sosial adalah dampak yang merubah pola hubungan, jaringan keluarga dan masyarakat serta status ekonomi.
DUKUNGAN PSIKOSOSIAL
Dukungan Psikososial merupakan bantuan terhadap individu dan masyarakat yang memperhatikan hubungan dinamis yang terjadi secara terus-menerus dan saling mempengaruhi antara aspek Psikologis dan aspek Sosial dalam lingkungan dimana individu/ masyarakat berada.
  • Dalam pemberian Dukungan Psikososial, individu/ masyarakat harus dipahami dari konteksnya, dari lingkungan dimana mereka berada.
  • Konteks yang unik antara masyarakat satu dengan lainnya berakibat pada kekhasan Dukungan Psikososial yang diberikan pada suatu masyarakat dengan masyarakat lainnya.
MASALAH DASAR DALAM DUKUNGAN PSIKOSOSIAL
Mentransformasikan mereka yang terkena dampak dari korban menjadi survivor
  1. Seorang korban adalah pasif dan tergantung pada yang lain --  ia berada dalam SITUASI dimana ia TIDAK SANGGUP MENGATASINYA
  2. Seorang SURVIVOR mampu mengambil PERAN AKTIF dalam upaya membantu dirinya sendiri dan masyarakat agar pulih dari bencana -- ia telah mendapatkan kembali KEMAMPUAN MENGENDALIKAN dan mampu memenuhi kebutuhannya betapapun kesulitan menghadangnya.
TUJUAN DUKUNGAN PSIKOSOSIAL
Mengembalikan individu, keluarga, masyarakat agar setelah peristiwa bencana terjadi, dapat secara bersama menjadi kuat, berfungsi optimal dan memiliki ketangguhan menghadapi masalah sehingga menjadi produktif dan berdaya guna.

Mengapa bukan pendekatan psikologis  ?
  1. Pendekatan Psikologis dan Konseling individual dianggap kurang tepat saat kita menemui reaksi-reaksi normal pada situasi abnormal/ ekstrim.
  2. Dapat menyebabkan stigmatisasi.
  3. Hanya menjangkau sebagian kecil populasi.
  4. Melakukan konseling dengan pengalaman dan kualifikasi yang kurang memadai justru akan membawa dampak buruk.
  • Meningkatkan kesejahteraan Psikososial dengan hadir di tengah masyarakat, membangun keterampilan dan pengetahuan yang telah ada sebelumnya di masyarakat, termasuk membangun kembali kebiasan masyarakat setempat.
  • Intervensi berfokus pada menurunkan kerentanan individu/ masyarakat terhadap risiko, meningkatkan sumber daya individu/ masyarakat, dan memobilisasi peluang yang ada dalam lingkungan para survivor.
  • Konsentrasi pada bidang kesehatan mereka.
  • Pastikan keberadaan relawan di tengeh masyarakat.
  • Jadilah teman -- mendengarkan secara aktif.
  • Memetakan sumber-sumber yang tersedia di tingkat lokal dan tentukan keterkaitannya diantara sumber-sumber tersebut serta identifikasi kebutuhan masyarakat.
  • Memobilisasi partisipasi masyarakat.
  • Mendukung para relawan dan kelompok pekerja masyarakat.
  • Melanjutkan pelatihan dan pengembangan keterampilan bagi relawan PMI.

Prinsip Dasar Pemberian Dukungan Psikososial
  • Pendekatan berbasis masyarakat
Bekerja berkelompok bukan sendiri-sendiri dan berfokus pada penguatan jaring komunikasi/ potensi di masyarakat, maka akan lebih banyak orang yang dapat dibantu.
  • Pemanfaatan relawan terlatih
Relawan adalah sumber yang sangat berharga, karena mengenal masyarakat yang terkena dampak bencana serta dapat bereaksi cepat disaat krisis termasuk memberikan dukungan jangka panjang kepada para survivor.
  • Penguatan
Upaya menolong orang lain agar mereka mendapatkan kembali harga diri dan otonominya yaitu dengan fokus pada kemampuan dan kekuatan dibandingkan masalah dan kelemahan mereka.
  • Partisipasi masyarakat
Kegiatan yang berdasarkan ide yang dikembangkan oleh masyarakat akan mendukung pemberdayaan, menumbuhkembangkan rasa kepemilikan terhadap proyek, serta memfasilitasi kemampuan untuk memecahkan masalah.
  • Perhatikan terminologi
Kata-kata dapat memiliki pengaruh yang kuat dalam situasi-situasi tertentu. Hati-hati dalam menggunakan istilah untuk mendiskripsikan masyarakat.
  • Keterlibatan aktif
Keterlibatan masyarakat dalam menentukan permasalahan mereka sendiri. Pengakuan atas keterampilan dan kompetensi  yang dimiliki seseorang.
  • Kerahasiaan
  1. Anda harus selalu mendapatkan persetujuan dari seseorang sebelum membagi informasi dengan orang lain baik di dalam atau di luar PMI.
  2. Saat mendiskusikan dan menerangkan kebutuhan seseorang, jangan sebutkan namanya, gunakan inisial saja.
  3. Syarat yang sama juga berlaku untuk anak-anak
  • Kebebasan dan informasi diketahui bersama
  1. Persetujuan untuk berpartisipasi di dalam proyek yang didasarkan informasi yang lengkap, akurat, dipahami, transparan, termasuk berbagai konsekuensinya harus diperoleh dari setiap individu, keluarga dan masyarakat.
  2. Masyarakat berhak menolak untuk berpartisipasi atau memberikan informasi.
  • Netralitas 
  1. Merupakan prinsip yang sangat penting. 
  2. Meskipun setiap orang berhak untuk memiliki pendapat politik atau keyakinan beragama, namun hal ini tidak boleh mempengaruhi relawan dalam tugas.

Jumat, 17 Desember 2010

KEBIJAKAN IFRC & PMI DI BIDANG DUKUNGAN PSIKOSOSIAL

SEJARAH DUKUNGAN PSIKOSOSIAL

Akhir 1980-an & awal 1990-an  :
  • Banyak kejadian bencana alam
  • Kebutuhan fisik survivor telah terpenuhi
  • survivor mengalami stress, merasa kehilangan, tidak aman
IFRC menyadari pentingnya menyediakan dukungan psikososial bagi survivor bencana dalam kegiatan penanganan bencana
  1. Tahun 1991 rapat konsultasi PSP pertama di Kopenhagen, Denmark
  2. Tahun 1993 IFRC & DRC membentuk PSP Referrence Center
Tahun 1990-an  :
Berbagai peristiwa konflik di Somalia, Liberia, Kroasia, Bosnia, Herzegovina, Rwanda mengakibatkan Relawan, Staf, Delegasi IFRC mengalami kelelahan fisik, rasa kehilangan, mengisolasi diri dari lingkungan, depresi, mimpi buruk, flasback. Sehingga mereka pun membutuhkan DUKUNGAN PSIKOSOSIAL.

KEBIJAKAN IFRC ( Mei 2003 )

3 Target grup Dukungan Psikososial  :
  1. Masyarakat survivor bencana & orang yang hidup di bawah tekanan.
  2. Relawan & Staf yang terlibat dalam tanggap darurat bencana & program kemasyarakatan.
  3. Delegasi expatriat.
PERAN IFRC 
  • Mengembangkan strategi Dukungan Psikososial & panduan untuk mendukung terimplementasinya kebijakan dukungan psikososial.
  • Mengembangkan standar pelatihan Dukungan Psikososial dan materi yang sesuai secara budaya, teknis dan keilmuan.
  • Menyediakan protokol untuk relawan & staf termasuk self care tips untuk para pelaksana.
  • Menyediakan informasi tentang hasil penelitian di bidang Psikososial.
  • Meningkatkan koordinasi & kolaborasi dengan institusi lain yang melakukan kegiatan Dukungan Psikososial.
  • Advokasi tentang pentingnya Dukungan Psikososial, mendukung NS untuk lobby mendapatkan dukungan dana di tingkat internasonal.
  • Mengintegrasikan Dukungan Psikososial dalam IFRC assessment, PB, RFL, PP, kesehatan, kesejahteraan sosial, remaja, OD secara tepat.
Dalam Pelaksanaan Dukungan Psikososial  :
  • Mengintegrasikan Dukungan Psikososial ke semua program yang relevan.
  • Pendekatan Community - based  : keterlibatan masyarakat dalam assessmen, pengambilan keputusan, identifikasi program, implementasi, monitoring & evaluasi.
  • Koordinasi & kolaborasi dengan institusi lain yang melaksanakan program Dukungan Psikososial.
  • Melaksanakan Dukungan Psikososial pada fase akut bencana.
  • MelaksanakanDukungan Psikososial pada fase rehabilitasi dengan perhatian pada masalah kemanusiaan, isu khusus, pengembangan organisasi dan membangun kerjasama.
  • MelaksanakanDukungan Psikososial sebagai bagian daro program pengembangan seperti program kesehatan masyarakat, pelayanan sosial, remaja, dll.
Renstra PMI tahun 2005 - 2009
  1. Memberikan pertolongan pertama kepada korban kecelakaan, korban bencana maupun konflik bersenjata, termasuk memberikan perhatian kepada cedera mental yang dialami. Pelayanan ini juga termasuk Dukungan Psikologis profesional bagi relawan dan staf.
  2. Mengembangkan sistem rujukan yang tepat untuk kasus Psikologis yang ditemukan baik di kalangan internal PMI maupun masyarakat korban bencana/ konflik.
Kegiatan Dukungan Psikososial PMI
  1. Banjir bandang di Bahorok, Sumatera Utara
  2. Gempa & tsunami Aceh
  3. sharing gruop (debriefing) relawan yang bertugas di lokasi bencana gempa & tsunami.
  4. sharing gruop (debriefing) relawan yang bertugas di lokasi  bom Bali II
  5. Dll.